22.2 Pengertian Ular Tangga Ular tangga merupakan permainan anak-anak berbentuk papan yang dimainkan oleh dua orang atau lebih. Papan permainan dibagi dalam kotak-kotak kecil, ada sejumlah tangga atau ular digambar dibeberapa kotak yang menghubungkannya dengan kotak lain. Menurut Janah 2009 tidak ada standart papan dari permainan ular tangga. ulartangga tanggung jawab belajar; (3) mengembangkan bentuk awal produk media permainan simulasi ular tangga tanggung jawab belajar; (4) validitas desain terdiri dari uji ahli materi dan uji ahli media; (5) uji coba produk terdiri dari uji calon pengguna produk dan uji kelompok kecil; (6) revisi produk akhir. UlarTangga merupakan film hantu Indonesia yang dirilis 9 Maret 2017. Film ini akan dibintangi oleh Shareefa Daanish , Vicky Monica , Fandy Ahmad , Fauzan Nasrul , Alessia Cestaro , Yova Gracia , Randa Septian . UjianAkhir Semester Mata Kuliah Pedagogika; UAS NAM 2021; You are Here. Home. pengertian ular tangga. Tag: pengertian ular tangga. Permainan Ular Tangga dan Manfaatnya bagi Anak Usia Dini. ALAT PERMAINAN EDUKATIF, RAGAM PERMAINAN 13 Maret 2020 13 Maret 2020 Sabyan Website. Halitu terkait dengan rencana mendaki gunung tim pecinta alam kampusnya. Tim yang akan berangkat dalam pendakian itu dipimpin Bagas, kekasihnya. Bagas tidak percaya pada kekhawatiran Fina. Ia membujuk Fina untuk tetap berangkat bersama Martha, William, Dodoy, dan Lani. Perjalanan mereka dibantu Gina, pendaki dan penunjuk jalan yang berpengalaman. XjXL473. Sinopsis Ular Tangga – Ular Tangga merupakan film horor Indonesia garapan rumah produksi Lingkar Film yang disutradarai oleh Arie Aziz, dengan skenario ditulis oleh Mia Amalia. Film ini dibintangi oleh Vicky Monica, Shareefa Daanish, Fauzan Nasrul, Alessia Cestaro, Randa Septian, Ahmad Affandy, Yova Gracia, Roy Marten, dan Guntur Triyoga. Seangker apa sih film ini, simak sinopsis Ular Tangga di sini Sinopsis Ular Tangga Film ini berkisah tentang Fina, seorang mahasiswi berwatak serius dan memiliki potensi indigo. Fina sebenarnya sudah memiliki firasat buruk. Mimpi buruk yang muncul dalam tidurnya seperti menghidupkan alarm tanda bahaya dalam dirinya. Hal itu berkaitan dengan rencana mendaki gunung tim pencinta alam kampusnya. Kebetulan, tim yang akan berangkat dalam pendakian itu dipimpin oleh Bagas, kekasih Fina. Bagas tidak percaya pada kekhawatiran Fina. Ia malah membujuk Fina untuk tetap berangkat bersama tim pencinta alam yang beranggotakan empat orang mahasiswi lain, yakni Martha, William, Dodoy dan Lani. Pada tahap awal, perjalanan mereka dibantu oleh Gina, seorang pendaki dan penunjuk jalan yang sudah lebih dulu berpengalaman dan mengenal medan di gunung tersebut. Sayangnya, peringatan Gina agar mereka memilih jalan yang aman, tidak diindahkan oleh teman-teman Fina. Tanpa mereka sadari, jalan yang mereka pilih mengantarkan mereka menuju pohon tua yang angker dan rumah misterius di gunung yang memiliki cerita kelam di masa lalu. Fina baru menyadari bahaya mengancam dirinya dan teman-temannya. Kemunculan dua hantu anak kecil, Sania dan Tania, seolah menjadi pertanda akan bahaya yang mengancam mereka. Mereka tersesat di gunung, dan terpaksa bertahan di sebuah rumah misterius yang sudah kosong selama bertahun-tahun. Namun, saat mereka berkeinginan turun gunung, segalanya sudah terlambat. Kejadian buruk pun menimpa mereka satu per satu. Semua itu diawali dengan penemuan permainan kuno ular tangga yang terbuat dari kayu, dibawah pohon angker itu. Penemuan itu memunculkan kembali hantu yang sangat berbahaya. Hantu yang penuh kemarahan karena pohon angker yang menjadi tempat tinggalnya, dirusak pada masa lalu. Seseorang telah memotong cabang pohon tersebut dan membuatnya menjadi ukiran permainan ular tangga. Peristiwa terkutuk yang memakan korban jiwa. Hantu nenek tua yang mendiami pohon itu kembali membalas dendam dan mencelakai Fina dan kawan-kawan. Lani menghilang, sementara Dodoy jatuh ke dasar lembah. Bagas juga akhirnya menghilang karena ulah hantu tersebut. Gina pun muncul dan menceritakan masa lalu mencekam kepada mereka yang masih selamat. Fina harus berusaha menyelamatkan teman-temannya, khususnya Bagas. Apakah Fina berhasil melakukannya atau dia pun pada akhirnya menjadi korban dari ulang tangga terkutuk itu? Tentunya sinopsis Ular Tangga tidak dapat menjawab semua pertanyaan ini. Saksikan kisah selanjutnya dalam film Ular Tangga yang akan tayang pada 9 Maret 2017. Poster film Ular Tangga Informasi film Ular Tangga Jenis Film Thriller Produser Tommy Soemarni Sutradara Arie Azis Penulis Mia Amalia Produksi Pemeran Shareefa Danish, Vicky Monica, Ahmad Affandy, Randa Septian, Yova Gracia, Fauzan Nasrul, Shareefa Danish, Alessia Cestaro Tanggal rilis 9 Maret 2017 Trailer film Ular Tangga Artikel Terkait “Virtue always pays and vice always punished” Dunia permainan ular tangga sejatinya adalah dunia peradilan yang teramat adil. Pada puncaknya kita akan mendapat hadiah, kita naik tangga buat meraihnya. Hukuman permainan ini adalah apabia kita menyentuh ekor ular, dan meluncur turun, menjauh dari puncak. Ini adalah permainan anak-anak yang enggak sekadar permainan keberuntungan. Pada papan permainannya sendiri, tangga biasanya diikuti ilustrasi tokoh kartun yang melambangkan kebaikan, sedangkan ular diikuti oleh tindak tokoh yang berkonotasi degradasi, keserimpet kulit pisang yang dibuangnya sendiri, misalnya. Ada pesan moral dalam ular tangga. Berakar dari kebudayaan India, ular tangga mempunyai metafora yang lebih luas lagi. Di sana, permainan ini diasosiasikan dengan karma. Pembebasan dan emansipasi. Setiap kolom tangga melambangkan sifat kebajikan dan kolom ular represents sifat terburuk manusia. Naik tangga berarti melakukan kebaikan dan kita akan mendapat reward. Do bad things, kita bisa saja berakhir dengan mengulang langkah dari awal. Seluruh perjalanan dalam ular tangga, aslinya, adalah perjalanan mencapai nirwana. Dude, that’s deep. Sayangnya, tidak ada satupun mitologi ataupun simbolisme permainan ular tangga yang disangkutpautkan ama film Ular Tangga garapan Arie Azis. Ini adalah film tentang board game yang nyaris nothing to do with the actual game. Maksudku, kita bahkan enggak nemu ular tangga hingga menit ke tiga puluh. Sedari menit awal film malah dengan gencarnya memaparkan soal mimpi dan mekanisme dunia dalam cerita, yang enggak pernah benar-benar make sense. Usaha make believe film ini gagal total karena ceritanya tidak punya lapisan apapun. Film horor ini MELEWATKAN KESEMPATAN YANG LUAR BIASA BESAR dengan tema yang mestinya bisa diolah menjadi cerita psikologikal dan spiritual. But walaupun horor, film ini enggak ada seram-seramnya sama sekali. Dan karakter-karakternya, hehehe.. karakter apaaan? There is no single soul in the movie yang bisa bikin kita peduli. Aku suka banget permainan ular tangga. Aku sering bikin sendiri pake kertas buku kotak-kotak buat dimainin sama keluarga kalo lagi pulang libur lebaran. Ular tangga yang aku bikin biasanya pake tema mash up dari video game ataupun film kartun, misalnya Pokemon. Makanya aku jadi ngebet nonton film ini. Meski begitu aku juga sadar reputasi film horor Indonesia yang masih muter-muter di tempat. Jadi, aku masuk ke bioskop dengan keadaan jantung yang sudah siap banget buat dikaget-kagetin. Mungkin karena udah berprasangka buruk duluan itulah, alih-alih berasa happy kayak abis naik tangga, aku malah merasa merosot di punggung ular turun jauuuuhh banget setelah beberapa menit duduk menonton film ini. my favorite landing spot balik ke start! Ular Tangga menceritakan tentang sekelompok anak muda pecinta alam yang pergi naik gunung buat ngeliat sun rise. Kisahnya sendiri kata posternya diangkat dari kejadian nyata di Curug Barong, tapi kita enggak ngeliat curugnya, jadi aku enggak tahu seberapa besar porsi cerita-beneran film ini. Premis yang mendasari cerita sangat sederhana; pengen naik gunung, hambatannya adalah mereka nyasar dan kemudian menemukan permainan ular tangga dari kayu yang membawa petaka meminta jiwa. Cara ringkas jelasin film ini adalah banyangkan film The Forest 2016 dengan elemen Insidious. Tokoh utama kita, Fina so boring sehingga Vicky Monica tidak bisa sekalipun kelihatan meyakinkan, adalah orang yang punya bakat indigo. Dia mendapat penglihatan tentang keselamatan teman-temannya. Dia juga berkomunikasi dengan dua hantu anak kecil. Dengan belajar menggunakan kemampuannya tersebutlah, Fina memecahkan misteri di balik semua kejadian gak make sense yang menimpanya. -Naik gunung. -Ular tangga ada NAIK tangganya. -Ular melambangkan setan. Semua koneksi sederhana terhampar di sana, tinggal nyambungin. Dan film ini entah bagaimana bisa gagal melihatnya! Hasilnya kita mendapat cerita luar biasa poornya sehingga memanggil dirinya film adalah pujian yang terlalu manis. Film ini begitu enggak kompeten dan sangat males sehingga penulisannya terasa kayak dikerjakan oleh anak kecil. I dunno, mungkin dua hantu cilik di film ini bosen main ular tangga dan memutuskan untuk ngetik naskah, dan tidak ada yang beranjak untuk melarang mereka. Dialog seadanya, tidak berbobot, dan cenderung bikin kita ngikik. At one time si tokoh cowok jagoan bilang gini “Kotak ini pasti penting” dan dia melanjutkan kalimatnya dengan “Kita buka besok” tanpa rasa bersalah whatsoever hhihi. I mean, kalo memang penting, kenapa ngebukanya mesti nunggu ampe besookk???? Tidak ada effort dalam narasi film ini. Antara plot poin, ceritanya tinggal meloncat-loncat gampang banget. The whole actual script sepertinya memang cuma sesederhana mereka naik gunung -> nyasar ke rumah tua -> ngikutin hantu -> dapetin ular tangga. Mimpi dan jump scares adalah kombinasi maut yang justru jadi senjata utama film ini. Environment enggak pernah dimanfaatkan sehingga hutan yang mengurung mereka jadi sama membosankannya dengan para tokoh yang ada. Tidak ada motivasi pada tokoh-tokohnya, terutama yang bernapas. Mereka cuma going around ngelakuin pilihan-pilihan yang dogol. Aku enggak bisa mutusin mana yang lebih bloon antara masuk ke rumah tua, atau setelah masuk malah milih tidur di pekarangan rumahnya. Tidak ada stake. Tidak ada development. Tokoh yang diperankan Alessia Cestaro yang nyebut hutan dengan “hyutan” diperlihatkan jutek ama tokoh Shareefa Daanish, namun tidak pernah dibahas kenapa dan apa alasannya, lantas mereka jadi saling bersikap normal begitu saja. Tidak ada arc yang dibangun. Kita tidak tahu siapa tokoh-tokoh ini, hubungan mereka secara personal. Para pemainnya cuma punya satu job; tampak ketakutan, dan mereka semua gagal mengerjakan tugas mereka. Tidak ada emosi tersampaikan. Dalam film ini ada penampilan dari beberapa aktor yang cukup mumpuni, namun mereka hanya diutilize sebagai tokoh pemberi info. Pengecualiannya si Shareefa Daanish. Dia terlihat kompeten enough memainkan tokoh seadanya. Film ini nekat masukin twist, yang saking maksainnya, malah terasa kayak mereka sadar cerita mereka boring dan belokin cerita dengan harapan para penonton enggak menduga. Namun memang soal twist tersebut masih bisa aku maafkan, lantaran it eventually leads us ke adegan yang paling ingin kita lihat seantero durasi film; aku yakin orang-orang yang tertarik nonton film ini pasti ingin liat this particular scene; Shareefa Danish ngelakuin hal yang creepy! Joget Lingsir Wengi Jam rusak yang mati pun sesungguhnya benar dua kali dalam sehari. Selain the very last scene, ada satu dua shot film ini yang terlihat cukup meyakinkan. Aku suka momen ketika tokohnya Shareefa Daanish duduk di ruangan penuh lilin, di sana ada lemari yang punya cermin, dan tampak sosok hantu nenek pada pantulan cermin tersebut. Shot pohon besar dan adegan ketika Fina berjalan dengan lentera juga lumayan surreal. Namun buat sebagian besar film, production designnya terkesan amatir. Enggak detil. Aku enggak tau kalo cekikan bisa menimbulkan luka sayatan pada leher. Memilih untuk menggunaan efek praktikal buat sebagian hantu sesungguhnya adalah usaha yang patut diacungi jempol, hanya saja eksekusinya terlihat agak kasar. Film ini berusaha menggabungkannya dengan efek komputer, resulting penampakan yang enggak mulus. Kelebatan hantu malah jadi komikal dengan gerakan yang dipercepat dengan over. Editingnya juga terasa enggak klop. Film ini menggunakan tone warna keabuan yang mungkin buat menimbulkan efek misterius. Lagu pengisi yang digunakan, tho, terkadang terasa berbenturan keras dengan nuansa yang dibangun. Film ini sepertinya sudah turut siap untuk diputar di televisi karena ada beberapa jeda yang seolah sengaja dijadikan slot buat pariwara. Fina dan teman-temannya melanggar batas wilayah yang seharusnya tidak boleh dimasuki oleh penjelajah. Sama seperti filmnya yang melanggar satu garis batasan yang semestinya dihindari jauh-jauh oleh film horor. Yakni menjadi gak-sengaja lucu. Ada banyak momen ketika tawa malah memenuhi studio bioskop tempat aku menonton, misalnya ketika salah satu teman Fina kepayahan menggotong tubuh rekannya. Atau ketika tangan hantu anak kecil itu dipegang oleh mereka. Buatku ada satu momen yang bikin aku kesulitan berhenti terbahak, yaitu ketika kamera memperlihatkan peta pendakian gunung yang Fina dan teman-teman bawa. PETANYA KAYAK PETA DI UNDANGAN NIKAHAN!!! Hahahaha.. Gak heran kenapa mereka tersesat. Gak heran perasaan Fina enggak enak about perjalanan mereka. Kocak banget mereka mampu nyediain papan kayu ular tangga tapi enggak bisa ngasih peta yang lebih proper. It’s just a lazyness, people! Nyaris tidak ada redeeming quality, film ini kalo dijadiin permainan ular tangga pastilah isinya ular melulu. Cuma ada satu tangga pendek. Adalah sebuah problem besar jika film horor malah jatohnya unintentionally funny dan enggak seram. Penulisan, penokohan, penampilan, semuanya terlihat tidak kompeten. Tidak ada bobot apapun. Mungkin diniatkan sebagai petualangan horor, tapi gagal dalam penyampaian. Film ini melewatkan kesempatan yang begitu besar karena Ouija Origin of Evil 2016 sudah membuktikan board game bisa dijadikan materi horor yang compelling jika digarap dengan sungguh-sungguh dan enggak males. The Palace of Wisdom gives setengah dari kocokan dadu snake eyes’ for ULAR TANGGA. 1 out of 10 gold stars! That’s all we have for now. Remember, in life there are winners. And there are losers. "Ular Tangga" punya bekal mencukupi untuk menjadi suguhan horor menarik. Premisnya unik. Keterlibatan Shareefa Daanish pasca lima tahun absen bermain film juga menjadi daya tarik. Fakta di balik layar lain turut pula menyita perhatian, yaitu mengenai Wilson Tirta, produser eksekutif sekaligus pendiri Lingkar Film selaku rumah produksi bagi "Ular Tangga" yang masih berusia 14 tahun, menjadikannya produser film Indonesia termuda. Tidak heran jika gemerlap industri film menarik minat wiraswasta muda ini. Ide cerita Wilson sempat ditawarkan pada Jujur Prananto, namun batal karena proses penulisan naskah Jujur dianggap terlalu lama. Rupanya ini pangkal permasalahannya. Ketidaksabaran Wilson mendorongnya berpaling pada Mia Amalia "Luntang Lantung", "Inikah Rasanya Cinta?". Sedangkan bangku penyutradaraan diisi Arie Azis "Oops!! Ada Vampir", "Penganten Pocong", "Rumah Hantu Pasar Malam". Oh Tuhan, mendadak proyek ini terasa mengkhawatirkan. Apakah hasrat mempercepat proses produksi berujung mengesampingkan kualitas? Menengok hasil akhirnya, kecurigaan tersebut jelas beralasan. Bayangkan saja, anda menyaksikan film berjudul "Ular Tangga" lalu mendapati amat minimnya kontribusi permainan itu. Ibarat makan sate ayam dengan porsi daging ayam sangat sedikit. Atau nasi goreng tanpa nasi. Wajar bila sebagai konsumen saya berang, merasa tertipu. Alkisah, Fina Vicky Monica kerap mengalami mimpi buruk yang dicurigainya merupakan pertanda atas kejadian masa depan. Rasa penasaran membuat Fina membaca buku "The Interpretation of Dreams" milik Sigmund Freud sembari berkonsultasi pada seorang dosen Roy Marten. Saya enggan menyalahkan kebodohan pada film horor mengingat tujuan utamanya adalah menakut-nakuti. Ketidaktepatan ilmu maupun lubang logika bisa dimaklumi. Namun kengawuran "Ular Tangga" sudah kelewatan, menunjukkan kedunguan hasil ketidakpedulian penulisnya. Menyatukan fantasi, mistis, reliji dan sains dalam horor itu lumrah. Namun harus ada poin yang dijadikan pegangan. Seseorang bisa membuat cerita didasari sains lalu melebarkan semaunya berbasis imajinasi ke ranah lain, pun sebaliknya. Fokus gambar kerap menyoroti buku "The Interpretation of Dreams" tapi jelas teori Freud hasrat terpendam, bawah sadar, masa lalu bukan penopang cerita. Bahkan, setelahnya unsur mimpi tak lagi muncul, beralih sepenuhnya ke mistis. Aneh pula kala Roy Marten selaku dosen awalnya berteori soal sisi terpendam manusia lewat kalimat yang bak dikutip mentah-mentah dari Wikipedia sebelum tiba-tiba bicara tentang ilmu lebur sukma, lalu berganti lagi membicarakan agama. Kenapa seorang dosen menggunakan istilah "lebur sukma" ketimbang "astral projection" yang mana lebih scientific? Koreksi jika salah, tapi setahu saya lebur sukma bukan semata-mata ajian mengeluarkan roh seseorang dari tubuhnya. Tapi sudahlah. Terserah. Semua itu tak penting asal "Ular Tangga" sanggup menghibur. Kembali ke cerita, Fina dan rekan-rekan pecinta alamnya tengah bersiap mendaki Gunung Barong walau ia merasakan firasat buruk. Di tengah pendakian, mereka tak menghiraukan larangan Gina Shareefa Daanish sang guide melewati sebuah jalur, dan bisa diduga, teror pun menghampiri. Hantu-hantu bermunculan, ditambah misteri tentang ular tangga berbahan kayu yang terkubur di bawah pohon besar. Mari lupakan fakta betapa bodohnya para tokoh melanggar pesan sosok yang paham seluk beluk daerah setempat. Mana ada pecinta alam berpengalaman melakukan itu? Kenapa pula pecinta alam nekat mengambil barang misterius di suatu tempat apapun alasannya? Lagi-lagi saya bermurah hati memaafkan kelalaian tersebut. Film ini jadi tak termaafkan ketika permainan ular tangga urung dimanfaatkan. Setelah menanti sekitar 35 menit, daripada hybrid petualangan fantasi dan horor, papan ular tangga hanya dijadikan jalan menghilangkan satu per satu karakter. Setiap dadu bergulir, terjadi gempa, kemudian seseorang hilang. Begitu seterusnya, menciptakan pola berikut Lani menggelindingkan dadu "Hah? Lani hilang! Ke mana Lani?!" "Lani! Lani!" Mereka mencari Lani. Dodoy menggelindingkan dadu. "Hah? Dodoy hilang! Ke mana Dodoy?!" "Dodoy! Dodoy!" Mereka mencari Dodoy. Bagas menggelindingkan dadu. "Hah? Bagas hilang! Ke mana Bagas?!" "Bagas! Bagas!" Rasa takut juga gagal dipancing akibat penampakan hantu medioker serta hanya satu jump scare berhasil mengejutkan selama 94 menit durasi. Kengerian semakin nihil akibat kerap tak sesuainya pemilihan lagu. Paling menggelikan kala nomor pop balada "Memori Indah" milik Achie membungkus momen mendekati akhir yang diniati emosional tetapi berujung memancing tawa. Ending-nya berpotensi memuaskan tipikal tragic cliffhanger khas horor kalau bukan karena tambahan satu adegan yang memaksakan twist sembari berusaha menambah porsi Shareefa Daanish. Ya, jika anda tertarik menonton "Ular Tangga" karena keberadaan sang aktris, urungkan niatan tersebut. Shareefa hanya muncul di awal dan akhir dengan signifikansi minim serupa board game-nya. Padahal kalau ada yang bisa menyelamatkan "Ular Tangga", Shareefa Daanish orangnya. Kids jaman old pasti tahu dengan permainan ular tangga. Dalam board game ini, kita menjalankan bidak / pion pilihan kita melalui kotak demi kotak hingga mencapai garis finish di kotak ke-100. Pada kotak tertentu, terdapat gambar tangga dan ular. Jika tiba di gambar tangga, maka bidak kita bisa langsung naik ke kotak yang ada di ujung atas tangga. Sebaliknya, jika sampai di kotak bergambar ular, maka pion kita harus meluncur turun ke ujung kepala ular di bagian di tahun 2017, ada sebuah film horor lokal besutan Arie Azis, sutradara trilogi Arwah Tumbal Nyai, yang berjudul “Ular Tangga”. Penasaran jadinya, seperti apa sih filmnya. Apa bakal membawa unsur-unsur permainan tersebut ke dalam cerita misteri bernuansa horor? Atau ujung-ujungnya hanya sebagai marketing gimmick, sekedar membuat kita jadi kepo dan tergoda untuk menontonnya? Simak deh sinopsis dan review singkatnya di SingkatVina diperankan oleh Vicky Monica memiliki firasat buruk melalui mimpi-mimpinya belakangan. Hal tersebut berhubungan dengan rencana mendaki gunung bersama tim pecinta alam di kampusnya yang dipimpin oleh Bagas diperankan oleh Ahmad Affandy. Pun begitu, Bagas tidak terlalu mempedulikan kekhawatiran Vina dan tetap membujuknya untuk melanjutkan rencana mereka bersama dengan Martha diperankan oleh Alessia Cestaro, William diperankan oleh Fauzan Nasrul, Dodoy diperankan oleh Randa Septian, dan Lani diperankan oleh Yova Gracia.Di titik awal pendakian, mereka bertemu dengan Gina diperankan oleh Shareefa Daanish, pendaki berpengalaman yang sebelumnya sudah diminta Bagas untuk membantu mengantar mereka hingga Pos 1. Sebelum berpisah, Gina mengingatkan mereka agar mengikuti jalur yang sudah ditetapkan. Peringatan tersebut dilanggar oleh Bagas dkk dan berujung pada petualangan yang penuh misteri dan teror gaib, bahkan mengancam nyawa mereka. Dapatkah mereka keluar dari semua itu dan kembali dengan selamat?Tanggal Rilis 9 Maret 2017 Durasi 90 menit Sutradara Arie Azis Produser Tommy Soemarni Penulis Naskah Mia Amalia Produksi Lingkar Karya Pratama Pemain Shareefa Daanish, Vicky Monica, Ahmad Affandy, Fauzan Nasrul, Alessia Cestaro, Yova Gracia, Randa Septian, Egi Fedly, Tuti Kembang Mentari, Yafi Tessa Zahara, Atiyah, Roy Marten, Guntur TriyogaReview SingkatWARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!Film dibuka dengan mimpi buruk yang dialami Vina dan berlanjut pada dirinya yang gelisah memikirkan mimpi tersebut. Vina lantas menanyakan perihal mimpi dan keterkaitannya dengan firasat serta makhluk gaib pada dosen psikologinya yang diperankan oleh Roy Marten. Bagian ini memakan durasi yang lumayan panjang sehingga mau tidak mau saya merasa film “Ular Tangga” ini ada hubungannya dengan tidak salah. Mulai dari mimpi yang berujung jadi nyata / petunjuk hingga out of body expererience. Sayang tidak menyertakan lucid dreaming mimpi dalam mimpi yang acap ditemui di film horor. Supaya lebih komplit di sinilah letak permasalahannya. Permainan ular tangga yang diangkat menjadi judul dan sudah seharusnya mendapat porsi lebih besar nyatanya tidak terlalu dikulik. Alih-alih membawa cerita ke nuansa misteri psikologis penuh kejutan yang sangat cocok dengan permainan tersebut, sutradara Arie Azis terjebak pada penggarapan film horor yang begitu-begitu saja. Seandainya diganti dengan permainan monopoli atau ludo rasanya juga tidak terlalu banyak memang masih ada. But not in a good mapala dalam film diceritakan sudah berulang kali melakukan pendakian. Orang-orang yang sudah sering menjelajah gunung pasti tahu bahwa area tersebut kental dengan hal gaib. Larangan atau pantangan yang ada sebaiknya dituruti. Di film ini, Bagas dkk dengan mudahnya melanggar hal lain adalah karakter Vina yang menurut saya tidak konsisten. Terkadang ia terlihat kebingungan, di lain waktu ia terlihat bagai pemimpin yang tahu pasti apa yang harus mereka semua lakukan agar bisa selamat. Adegan mimpi di awal yang disajikan di layar juga tidak membantu menguatkan kemampuan Vina yang digambarkan tahu semua yang bakal terjadi lewat mimpi-mimpinya. Kenapa? Karena adegan pada mimpi tersebut sama sekali tidak terjadi saat mereka terjebak di tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan pada Bagas saat Vina menemuinya di alam gaib. Yang jelas, cukup mengejutkan juga ketika setelah itu Vina bisa menemukan tubuh ketiga orang temannya yang hilang dengan relatif mudah. Apa mungkin Bagas memberitahu ancer-ancer posisi mereka? Atau lubang pada cerita?Dari segi horor, “Ular Tangga” sebenarnya nyaris berhasil. Nyereminnya sih tidak terlalu. Tapi hampir semua penampakannya on the spot, sesuai porsi dan tidak lebay. Yang berlebihan justru efek suaranya, yang mau tidak mau harus dimaklumi mengingat film-film di tahun 2017 memang masih belum pede dengan jump scare mereka paling bikin pusing adalah twist di ending. Sama sekali tidak jelas. Adegan flashback yang mungkin diharapkan bisa menjadi petunjuk dari twist tersebut sama sekali tidak membantu. Adegan Vina yang digambarkan salah perhitungan waktu karena jamnya mati juga tidak terlalu untuk karakter, pada dasarnya film ini adalah tentang Vina dan firasatnya. Tidak perlu protes dengan keberadaan karakter-karakter lain yang seolah hanya tempelan tanpa ada kepribadian yang kuat. Satu-satunya karakter pendukung yang ada gunanya mungkin adalah William, mengingat dia yang selalu kebagian tugas gotong-gotong barang dan teman-temannya, Tangga” menambah panjang deretan film horor lokal yang menawarkan ide segar tapi keteteran dalam mewujudkannya sebagai sebuah cerita yang utuh dan berkualitas. Begitu papan permainan ular tangga hadir, saya sempat berharap ceritanya akan berlanjut ala ala Jumanji namun dengan sentuhan horor lokal. Sayangnya tidak. Si penulis naskah mungkin terlalu malas untuk memikirkan hal serumit itu. Jalur cepat yang conventional dan membosankan yang pada akhirnya Satu untuk idenya, satu untuk animasi papan permainan di menjelang akhir, satu lagi untuk akting Shareefa Daanish yang terbatas tapi mampu mencuri perhatian. Ok Google, artikel ini dimodifikasi terakhir pada tanggal April 18, 2020. Tema artikel yang berhubungan adalah Film Horor, Review Film,Cosa ArandaCosa Aranda adalah blogger profesional dari kota Surabaya yang sudah berkecimpung di dunia bisnis online sejak tahun 2005. Sempat beberapa kali menjadi pembicara seminar dan mengadakan workshop pada periode tahun 2007-2010. Saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggeluti hobi dan passionnya di bidang travelling, hiburan, serta permainan arcade. Bisa ditemui di Facebook jika ingin berkenalan. Ular tangga, salah satu permainan yang pastinya familiar di berbagai wilayah di Indonesia. Dan tentu, sesekali kita pasti pernah memainkannya. Kali ini, kita bisa menikmati ular tangga tidak hanya dalam bentuk permainan tapi juga film. Ular Tangga The Movie Based on True Story Ular Tangga the Movie akan menyuguhan kisah petualangan para pecinta alam saat pendakian ke Curug Barong yang dipenuhi dengan kisah horor. Pasalnya, di tengah rute pendakian Curug Barong, Bagas Ahmad Afandy, beserta Fina Vicky Monica, Martha alessia Caestro, William Fauzan Nasrul, Dodoy Randa Septian dan Lani Yova Gracia menemukan hal-hal aneh dan dibayangi dua gadis kecil berambut panjang dengan gaun panjang berwarna putih. Alur cerita yang diangkat berdasarkan kisah nyata ini memvisualisasikan kemampuan Fina dalam melihat alam lain. Sebelum pendakian Curug Barong dilaksanakan, Fina telah mendapatkan firasat yang tidak baik lewat mimpi dan pertanda buruk yang dialaminya. Dalam perjalanan Jakarta menuju Curug Barong pun, Fina mengigau tentang Gina, macam seorang cenayang. Fina, secara tak sadar mendeskripsikan Gina Shareefa Danish, guide pendakian mereka, yang belum ia kenal sama sekali. Sontak, semua teman-temannya merasa kaget dan terperanjat, terlebih Bagas, pacar Fina dan satu-satunya orang yang berkomunikasi dengan Fina. Bagas dan kawan-kawan tak mematuhi panduan rute Gina dan memasuki area terlarang di Curug Barong. Mereka selalu tersesat dan dikejutkan dengan berbagai hal tak terduga. Hal-hal menyeramkan mulai berdatangan sejak teman-teman Bagas memulai permainan ular tangga yang mereka temukan dalam rumah tua di tengah hutan. Satu per satu teman-teman Bagas menghilang. Di tengah hiruk pikuk ini, Fani berupaya untuk menemukan teman-temannya dengan memfokuskan pikirannya menjelajah ke dunia lain. Film ini sudah tayang sejak tanggal 9 Maret di berbagai bioskop di Indonesia. Temukan keseruan dan akhir dari kisah petualangan ini di bioskop kesayangan kamu! Trailer Ular Tangga the Movie

maksud akhir film ular tangga